Lynx segera menyadari kekasihnya, Leena, berada dalam bahaya. Ia segera merasakan keberadaan Leena melalui kertas formasi yang diberikannya kepada Leena.

"Apa? Bagaimana bisa? Ternyata jarakku ke tempat Leena tidak terlalu jauh. Efek halusinasi yang diciptakan mahluk ini membuatku berimajinasi tentang jarak rumahke Umbusari."

Di Umbusari, Leena duduk bersama keluarganya. Senyum bahagia menghiasi wajahnya. Mereka bercanda, tertawa, seperti mimpi yang sempurna.

Sebelum makan, Leena mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dia punya di lemari. Tumpukan pakaian itu terlihat sama persis dengan sebelumnya.

Setelah mengganti pakaian, Leena menemui ayah ibunya yang sudah menunggu di meja makan dengan berbagai hidangan rumahan yang dia suka. Leena tidak menyadari pakaian yang digunakannya hanyalah ilusi.

Lynx yang sudah tiba melihat kekasihnya dengan mata langit merasa ngeri. Dia merasa hampir terlambat.

Makhluk-makhluk berlendir melilit tubuh Leena yang tanpa busana. Tangan-tangan menjijikkan mengusap wajahnya, membelai rambutnya, membungkus tubuhnya seperti jaring halus yang menyesatkan.

"Leena, sadarlah!" teriak Lynx.

Namun Leena hanya tertawa riang, mengusap kepala "adik"-nya—yang dalam pandangan Lynx tampak seperti tentakel hitam yang melingkar.

Lynx tak buang waktu. Ia mengumpulkan energi iblis, lingkaran cahaya hitam muncul di bawah kakinya dan menciptakan gelombang energi yang menyebar, mendorong asap menjauh dari Leena.

Makhluk-makhluk itu meraung, tubuh mereka mulai memperlihatkan wujud asli mereka di mata Leena. Mereka merangkak, mengais, mencoba menyerang Lynx.

Lynx melompat ke depan, pedang kehancuran mengangkat tinggi.

Satu tebasan—makhluk-makhluk itu menggelepar, tubuh mereka mencair menjadi lumpur hitam. Lalu dari cairan tersebut, tumbuh lagi menjadi banyak mahluk baru. Namun Lynx tetap tidak berhenti. Dia melepaskan makhluk-makhluk yang menempel di tubuh Leena.

Leena yang mulai lepas dari pengaruh halusinasi tersentak. Matanya melebar. Nafasnya terengah. Ia memandang sekeliling, makhluk-makhluk aneh berada di sekelilingnya.

"Lynx… apa yang terjadi?" suaranya bergetar."Dimana ayahku? Ibuku dan yang lainnya? Kenapa aku disini?"

Lynx mengulurkan tangan, menariknya berdiri. "Ini semua hanya jebakan ilusi. Kita hampir terperangkap."

Leena menggigit bibirnya, wajahnya memerah. "Ilusi? Aku terlalu ceroboh…"

Lynx menggeleng, senyum tipis mengembang di wajahnya yang masih waspada. "Ilusi itu sangat kuat. Bahkan aku hampir terjebak. Sekarang kita tahu, ada sesuatu yang sangat berbahaya di dimensi ini."

Leena kemudian merasa tubuhnya terasa lengket, dengan lendiri-lendir hampir di seluruh tubuhnya. Saat memperhatikan tubuhnya, dia terpekik pelan dengan wajah memerah, sambil berusaha menutupi bagian intimnya."Jangan lihat kesini!"

Lynx membalikkan badan sambil merasa bingung dengan sikap Leena, bukankah dia sudah sering melihat bahkan mereka sering berhubungan intim, kenapa sekarang sikapnya seolah mereka orang asing.

"Apakah Leena masih dalam pengaruh makhluk itu?" Bisiknya pelan. Karena khawatir, Lynx membalikan badannya. Namun Leena justru melepaskan pukulan karena marah Lynx menoleh.

"Tunggu! Ini aku! Kenapa kamu menyerangku?" Teriak Lynx sambil melepaskan pukulan jarak jauh agar makhluk-makhluk tersebut tidak bisa mendekat. Lynx tidak ingin menghancurkan mereka karena akan membuat mereka bertambah banyak.

"Jangan lihat, balikkan badan atau aku akan pergi!" Ancam Leena kesal.

Lynx segera membalikkan tubuhnya, namun dia melepaskan energi saktinya untuk mengetahui apa yang dilakukan Leena dibelakangnya tanpa sepengetahuan dia.

Leena sendiri setelah melihat Lynx membelakanginya, segera mengeluarkan stok air yang dipunya dan membersihkan badannya. Dia merasa sangat malu dihadapan pria yang disukanya, karena tubuhnya penuh dengan lendir menjijikan.

Namun selain itu, disela-sela dia membersihkan tubuhnya, air mata keluar dan turun ke pipinya. Dia tidak menduga kebahagiaan yang dia rasakan ternyata palsu, hanya ilusi.

Dia sangat merindukan keluarganya, terutama ayahnya dan juga dia ingin bertemu dengan ibu kandungnya.

Lynx yang merasakan apa yang Leena sedang lakukan, meski heran karena tidak boleh melihatnya, tetap bertahan tidak membalikkan badan. Dia melepaskan formasi pelindung agar makhluk-makhluk tersebut tidak bisa masuk.

Setelah merasa tubuhnya lebih bersih dan sudah berpakaian, Leena memanggil Lynx. Tanpa menjelaskan alasan, Leena lalu menarik pedang yang sudah dikeluarkan dari cincin pemyimpanan.

"Void Cleaving Slash!"

Slash! Slash!

Dalam beberapa detik, ratusan tebasan energi pedang meluncur menyerang ke arah makhluk-makhluk yang terlihat semakin banyak terkumpul. Suara tebasan menebas angin dan para makhluk yang di lewatinya. Namun setiap makhluk yang terkena serangan, berubah terus menerus menjadi makhluk lain.

"Sayang, tenangkan dirimu!" Kata Lynx, mendekati Leena yang terlihat penuh emosi dan ingin melampiaskan kemarahannya.

Melihat Lynx menyentuh bahunya, Leena berhenti dan membalikkan badan melihat wajah Lynx. Tidak lama dia memeluk dan menangis.

Leena tersedu sedan, air mata mengalir deras di wajahnya. Kebahagiaan yang sempat ia rasakan saat bertemu keluarga ternyata hanyalah ilusi keji dari makhluk yang menjebaknya. Rasa kehilangan dan penyesalan bercampur menjadi satu. Lynx meletakkan tangan di pundak Leena, berusaha membantunya menenangkan hati dengan energi qi.

"Ilusi itu teramat kuat, Leena. Jangan salahkan dirimu. Makhluk ini mengincar hasrat terdalam korbannya," ujar Lynx lembut.

Leena menghapus air matanya dan menarik napas dalam. “Aku merindukan mereka. Terlalu dalam hingga tak sadar jebakan itu begitu nyata…"

“Kau kuat, Leena. Jangan biarkan rasa bersalah menguasaimu," kata Lynx menguatkan.

Leena mengangguk perlahan. Meski hatinya masih berat, ketenangan mulai merayapi dirinya.

Lynx menatap sekitar. “Dimensi ini lebih berbahaya dari perkiraan. Inilah sebabnya mengapa menyeberang antar dimensi sembarangan sangat berisiko."

"Bagaimana sekarang? Kita tidak tahu kemana harus mencari Lala." Tanya Leena sambil mengusap air matanya.

"Kita kembali ke benua Tianzhou. Mungkin Kael memiliki saran." Jawab Lynx sambil membawa Leena terbang ke langit lalu bersiap membuat portal dimensi.

Saat hendak membuat formasi, mata Lynx menangkap bayangan besar di kejauhan. Seonggok pesawat luar angkasa berwarna perak berkilauan, berusaha lepas dari cengkeraman makhluk hitam berlendir yang merayap di badan pesawat. Api berkobar dari sayap pesawat yang cacat, dan tubuh makhluk itu menggeliat-geliat menutupi dan menghisap energi kapal.

Leena menatap kearah yang dilihat Lynx dan melihat hal yang sama. Dari kejauhan, dia melihat bayangan seseorang yang melintas di salah satu kaca pesawat.

Leena terkejut. "Lynx, ada orang di pesawat itu. kita harus menolong mereka!"

Lynx mengangguk tegas. Tanpa ragu, dia dan Leena berkelebat melesat menuju kapal tersebut dengan kecepatan luar biasa.

***

Di dalam kapal, suasana mencekam. Tiga wanita dewasa dengan pakaian tempur terlihat berada didalam pesawat berusaha untuk menerbangkan pesawat dari makhluk yang menyerang mereka. Salah satu dari mereka melindungi seorang anak kecil yang terlihat ketakutan.  Sementara belasan awak kapal lainnya telah terbunuh akibat serangan makhluk itu.

Salah satu wanita, berambut merah panjang, menghunus belati besar, namun getaran tangannya menunjukkan ketakutan yang mendalam. "Aku tidak ingin mati begitu saja, aku akan menghabisi mereka semua."

"Jangan! Kamu hanya mengantarkan nyawa sia-sia. Mereka tidak bisa dibunuh." Kata wanita satunya sambil berusaha mengendalikan kontrol panel pesawat.

"Kita tidak bisa bertahan lama. Energi kapal hampir habis," ujar wanita lainnya yang berambut pendek berwajah dingin namun ketakutan.

Wanita berambut merah menggertakkan gigi. "Apa kita benar-benar akan mati di sini?"

Anak kecil itu menangis tersedu-sedu, tubuhnya gemetar. "Aku takut..."

Namun, mendadak cahaya kuat menembus badan kapal. Cahaya keemasan berpendar, mengusir makhluk-makhluk aneh yang melilit badan pesawat.

"Lihat, kita tertolong. Mereka melepaskan kita. Cepat pergi dari sini." Teriak wanita berambut merah.

"Tunggu lihat itu! Ada seorang pria dan wanita diluar sana. Mungkinkah dia yang menolong kita." Kata wanita satunya.

"Bagaimana jika mereka berniat jahat?" Kata wanita berambut merah.

"Dasar bodoh, mereka pasti hanya ilusi. Bagaimana mungkin ada manusia bisa selamat dari serangan makhluk itu. Kita pergi sekarang." Kata wanita berambut pendek sambil memainkan panel-panel pesawat untuk pergi meninggalkan planet tersebut.

Pesawat antariksa tersebut, setelah tidak ada lagi yang menghalangi, segera melayang  dan bersiap untuk menjauh dari planet yang sudah membunuh teman-teman mereka.

"Tidak tahu terima kasih." Kata Lynx pelan dengan nada kesal. Dia berharap bisa mendapatkan informasi namun mereka justru bersiap pergi meninggalkannya.

